Rumah Belajar Patmos adalah fasilitas pendidikan informal yang didirikan di bawah naungan Biro Diakoni Sosial HKBP. Berlokasi di Kabupaten Simalungun (wilayah sekitar Pematangsiantar), tempat ini bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan dan pendampingan bagi anak-anak yang kurang mampu. Pendampingan yang dilakukan adalah calistung, matematika dasar , bahasa inggris, serta penanaman karakter
Fokus utama dari Rumah Belajar PATMOS meliputi:
- Anak-anak Pinggiran Rel: Menjangkau anak-anak yang tinggal di daerah pinggiran rel kereta api (Jalan Ulakma Sinaga) yang rawan putus sekolah dan kurang mendapat akses pendidikan yang layak.
- Pengembangan Karakter & Literasi: Menyelenggarakan kegiatan peningkatan minat baca, kelas bimbingan belajar, dan kegiatan kerohanian seperti perayaan hari besar keagamaan.
- Pemberdayaan Guru: Bekerjasama dengan seperti Universitas HKBP Nommensen dalam program pengabdian masyarakat untuk melatih tenaga pengajar dalam pembuatan buku ajar dan metode mengajar kreatif.
Tempat ini hadir sebagai wujud kepedulian sosial untuk memastikan setiap anak, terutama dari keluarga dengan ekonomi sulit, tetap mendapatkan hak pendidikan dan masa depan yang cerah
Adapun kegiatan belajar mengajar di Rumah belajar patmos adalah mendampingi pembelajaran anak-anak dari kelas 1SD-kelas 6SD. Anak RBP mendapatkan pendampingan belajar mulai hari Senin- Kamis dengan kegiatan sesuai dengan tema dan kegiatan harian. Setap harinya Guru pendamping di rumah belajar patmos memberikan tema yang berbeda-beda. Seperti :
- Senin Cerita (Bahasa Indonesia) :
- Selasa Ceria
- Rabu bersama (belajar menghapal bersama)
- Kamis bermain
Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, ada beberapa kegiatan di rumah belajar patmos, salah satunya adalah senin cerita. Pada tanggal 16 Maret 2026, rumah bejar patmos mengadakan senin cerita yang bertepatan dengan Hari Doa Sedunia. Disana Guru pendamping, mengarahkan anak-anak agar menuliskan harapan-harapan mereka untuk masa depan sendiri, keluarga hingga doa bagi sesama. Sebelum menulis, anak-anak dan guru pendamping berkumpul dan guru pendamping memaparkan cerita melalui kisah Membangun Rumah diatas Batu dan Pasir (Matius 7 : 24-27). Perumpamaan membangun rumah diatas batu adalah orang yang mendengarkan dan melakukan Firman Tuhan. Saat badai (masalah) datang, rumahnya tetap kokoh. Sedangkan rumah diatas pasir, saat tiupan angin atau hujan turun, rumahnya roboh. Ini menggambarkan orang yang hanya mendengar tetapi tidak melakukannya. Sebuah perenungan tentang dimana kita meletakkan sandaran hidup saat badai datang. Guru pendamping menghubungkan cerita ini dengan saudara-saudara kita di Nigeria (tema Hari Doa Sedunia). Ternyata banyak anak dan perempuan disana mengalami perjuangan yang mirip dengan yang dialami anak-anak rumah belajar patmos : tantangan ekonomi, terpinggirkan, hingga kekerasan. Namun, satu hal yang dilakukan anak-anak dan perempuan Nigeria adalah keteguhan iman mereka. Meski keadaan sulit, mereka tetap kuat, karena membangun hidup diatas “Batu Karang Doa”. Dunia mungkin tidak selalu ramah,tantangan ekonomi mungkin ada, tapi selama kita punya iman yang kokoh, jangan pernah biarkan cahaya harapan itu padam. Selain senin cerita, rumah belajar patmos juga mengadakan ujian Triwulan. Ujian Triwulan ini bukan sekedar mengisi kertas, tapi tentang melihat sejauh mana keberanian mereka tumbuh. Di rumah belajar patmos, guru pendamping hadir bukan sebagai penguji yang kaku, melainkan sebagai teman berjuang. Kita percaya, tantangan terbesar bukanlah angka diatas kertas, melainkan tekad untuk memberantas ketidaktahuan.” Jangan takut karena tidak tahu, tetapi takutlah jika kita berhenti mencari tahu”. Teruslah melangkah, jangan pernah menuyerah pada rasa bingung. Masa depan milik anak-anak yang mau belajar.
Semoga dengan ini Rumah Belajar Patmos semakin berkembang dan anak-anak semakin semangat untuk belajar serta banyak anak-anak kedepannya lebih sukses.

